merajut entah
Langit saga.
Batin saya, tumben sore ini langit terlihat menarik. Biasanya saya memuji langit begitu berada di angkasa. Window seat, saya selalu memilihnya. Alasannya cuma satu, biar saya bisa menikmati keasyikan langka, menebak bentuk-bentuk awan. Menikmati prosesi badan pesawat mengangkasa. Roda yang berputar, kepak sayap meniru kerja sayap burung. Membentuk tahapan dinamis, yang mampu membawa ratusan nyawa, mengangkasa. Andaikan saat itu saya harus mati, paling tidak mata saya ini telah menikmati prosesi meninggalkan bumi.
Saya menatap langit, sembari kedua tangan saya memeluk pinggangnya erat. Saya tak mau ditinggalkan. Itu arti dekapan erat saya. Saya mencium aromanya, menyimpan rapat-rapat dalam ingatan. Menyuruh otak saya mengingat momen ini. Detik di mana saya merasa sangat membutuhkannya, sekaligus ingin melepaskannya. Mungkin saya sedang letih. Perlahan-lahan urat nadi saya lelah menapasinya. Berulangkali saya bertanya, namun dia tidak mau memberikan jawaban yang melegakan. Lalu sampai kapan saya menunggu, sampai sebuah kepastian memeluki jari manis ini?
Namun tetap hampa. Kosong. Saya tak ingin mati dulu sebelum menemukan jawaban. Seumur hidup saya ini tidak akan saya habiskan hanya untuk merajut kata ”entah’.
melody itu menari
Tak banyak cakap. Kami ini seperti orang asing yang kebetulan bertemu di gerbong kereta api. Kebetulan satu jurusan, sama-sama limbung dalam kebisuan, menekuri ruang kosong di antara hampa dan riuh suara mesin kereta.
Saya dan dia terpisah beberapa langkah, meski duduk berseberangan. Sesekali mata kami saling bertatap, sedang bibir bungkam. Seribu ungkapan coba kami salurkan lewat mata, namun sayang tak terbaca. Udara dan molekulnya tak bisa bekerjasama memintal ungkapan rasa, menjadikan sesuatu yang dirasa dan terbaca.
Beberapa menit kami ini saling mendiam. Menunggu lawan memulai bicara. Rasanya kalah jika memulai duluan. Padahal kami tidak saling berkompetisi, berlomba untuk memenangkan sebuah piala. Masing-masing diri kami sedang gengsi. Dia menarik bibirnya, mencoba mengukir senyuman yang dulu selalu bisa mematahkan amarah saya. Sekuat hati saya bertahan pada keangkuhan. Sayangnya, hati saya ini sudah demikian sempurna dikuasainya. Dia sanggup membaca berapa lama saya bergelung dalam kemarahan, kapan bisa ditakhlukkan.
Lalu melody bisu itu pun mencair. Membentuk gelembung-gelembung sarat rindu yang susah payah saya tahan. Saya tak lagi bisa mempertahankan ‘gengsi’. Ini bukan lagi tentang masalah harga diri. Namun perasaan saya yang berhasil ditelanjangi.
Hello you!
Kini aku kembali punya,
lahan kecil untuk ditanami.
Pupuk yang sudah lama teronggok,
tak tersentuh,
kukumpulkan kembali.
Jadilah kebun yang indah.
Hijau dan berbuah
oren.

