melody itu menari

December 7, 2009 at 7:29 am (daydreaming)

Tak banyak cakap. Kami ini seperti orang asing yang kebetulan bertemu di gerbong kereta api. Kebetulan satu jurusan, sama-sama limbung dalam kebisuan,  menekuri ruang kosong di antara hampa dan riuh suara mesin kereta.

Saya dan dia terpisah beberapa langkah, meski duduk berseberangan. Sesekali mata kami saling bertatap, sedang bibir bungkam. Seribu ungkapan coba kami salurkan lewat mata, namun sayang tak terbaca. Udara dan molekulnya tak bisa bekerjasama memintal ungkapan rasa, menjadikan sesuatu yang dirasa dan terbaca.

Beberapa menit kami ini saling mendiam. Menunggu lawan memulai bicara. Rasanya kalah jika memulai duluan. Padahal kami tidak saling berkompetisi, berlomba untuk memenangkan sebuah piala. Masing-masing diri kami sedang gengsi. Dia menarik bibirnya, mencoba mengukir senyuman yang dulu selalu bisa mematahkan amarah saya. Sekuat hati saya bertahan pada keangkuhan. Sayangnya, hati saya ini sudah demikian sempurna dikuasainya. Dia sanggup membaca berapa lama saya bergelung dalam kemarahan, kapan bisa ditakhlukkan.

Lalu melody bisu itu pun mencair. Membentuk gelembung-gelembung sarat rindu yang susah payah saya tahan.  Saya tak lagi bisa mempertahankan ‘gengsi’. Ini bukan lagi tentang masalah harga diri. Namun perasaan saya yang berhasil ditelanjangi.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.