merajut entah
Langit saga.
Batin saya, tumben sore ini langit terlihat menarik. Biasanya saya memuji langit begitu berada di angkasa. Window seat, saya selalu memilihnya. Alasannya cuma satu, biar saya bisa menikmati keasyikan langka, menebak bentuk-bentuk awan. Menikmati prosesi badan pesawat mengangkasa. Roda yang berputar, kepak sayap meniru kerja sayap burung. Membentuk tahapan dinamis, yang mampu membawa ratusan nyawa, mengangkasa. Andaikan saat itu saya harus mati, paling tidak mata saya ini telah menikmati prosesi meninggalkan bumi.
Saya menatap langit, sembari kedua tangan saya memeluk pinggangnya erat. Saya tak mau ditinggalkan. Itu arti dekapan erat saya. Saya mencium aromanya, menyimpan rapat-rapat dalam ingatan. Menyuruh otak saya mengingat momen ini. Detik di mana saya merasa sangat membutuhkannya, sekaligus ingin melepaskannya. Mungkin saya sedang letih. Perlahan-lahan urat nadi saya lelah menapasinya. Berulangkali saya bertanya, namun dia tidak mau memberikan jawaban yang melegakan. Lalu sampai kapan saya menunggu, sampai sebuah kepastian memeluki jari manis ini?
Namun tetap hampa. Kosong. Saya tak ingin mati dulu sebelum menemukan jawaban. Seumur hidup saya ini tidak akan saya habiskan hanya untuk merajut kata ”entah’.
